Terus terang kalau menanyakan bagaimana citra Polri dimata masyarakat saat ini,bisa dipastikan bahwa masyarakat masih menilai Polri ini dengan penilaian yang negative. Kalau masyarakat bisa berbicara pasti akan bilang : ”Maaf pak Polisi, kami belum [bisa] percaya kalian…!”.
Saat ini,
Kepolisian Republik Indonesia memiliki krisis kepercayaan dari masyarakat, dan
citra polisi dimasyarakat sudah sangat buruk. hal ini dikarenakan kesalahan
yang dilakukan oleh polisi itu sendiri. memang sih, polisi juga manusia, tapi
apakah kesalahan-kesalahan itu terus terjadi dan terulang. kalau sekali atau
dua kali mungkin masyarakat juga mengangapnya wajar. tapi kalau sudah menjadi
budaya, itu sudah kurang ajar namanya.
Secara garis
besar ada beberapa hal yang menjadi penyebab merosotnya CITRA Polri dimata
masyarakat, yaitu :
1.
Polisi Juga Pemakai Narkoba.
Polisi Harusnya menjadi contoh buat masyarakat. kalau polisi aja makai,
bagaimana masyarakatnya tidak pakai barang haram tersebut. soalnya ada deking
untuk mengeluarkannya ketika ia tertangkap. kalau masyarakat sipil yang memakai
narkoba, polisi selalu memburunya habis-habis, kalau polisi yang memakai barang
haram tersebut, tenang-tenang saja, toh dia kalau tertangkap bisa lepas lagi.
dan kalau polisi memakai barang haram tersebut, rahasia nya lebih aman dari
pada masyarakat sipil.
2.
Polisi Suka Mencari Masalah, Bukan
Menyelesaikan Masalah.
Polisi ketika ada razia, suka mencari-cari
kesalah dari pengendaranya. itu dilakukan agar mendapatkan uang masuk, bukan
masuk ke kas negara, melainkan masuk kantongnya sendiri. kalau ada pengendara
yang tertangkap, ia selalu menyulitkan pengendara tersebut, bukan malah memberi
solusi dan penyelesaian dari masalah tersebut. kalau pun ada ssolusinya,
ujung-ujungnya solusi tersebut adalah DUIT.
3.
Polisi Suka Cari Duit Dengan Mengangarkan
Seragam Yang Dipakainya.
Masuk Polisi butuh biaya besar. kalau sudah lewat polisi, maka ia cari lagi
duit dengan menganggarkan seragamnya. ini sering terjadi pada polisi lalu
lintas. lihat saja, ia selalu meraun - raun mencari mangsa di jalanan yang
melanggar aturan berlalu lintas. mending kalau uang dari tilang tersebut masuk
ke dalam kas negara, tapi ini malah sebaliknya, yaitu masuk kantong pribadi.
yang anehnya, hal ini hanya berani dilakukan pada masyarakat kecil.
4.
Masuk Polisi Selalu Identik Dengan Duit.
Coba saja lihat di lapangan. Masyarakat selalu berkata, kalau masuk polisi
harus ada duit. kalau enggak ada duit dan deking, hanya 5% kemungkinannya
lewat. kalau ada duit, orang letoi, bodoh, dan tidak tahu apa-apa juga bisa
jadi polisi, yang penting ada duit, dan dekingan kuat.
5.
Polisi Suka Bertindak Anarkis Terhadap
Masyarakat Kecil.
Lihatlah polisi di masyarakat. selalu bertindak anarkis, main pukul dan
main kaki. walaupun orang bersalah atau tersangka, tidak sepantasnya di lakukan
seperti binatang. polisi suka anarkis terhadapa masyarakat kecil, kalau kepada
pejabat, tidak. kalau pejabat bersalah, makan di bawa dengan hormat dan
diperlakukan seperti layaknya manusia, kalau masyarakat kecil, ditangkap dan
diperlakukan seperti binatang.
6.
Ada duit, Baru Bergerak.
Kalau kita kehilangan Mobil, atau terjadi pencurian di rumah kita, atau
terjadi kasus lainya, lalu kita laporkan kepolis, polisi akan bergerak dan
menangani kasus kita seenak peruknya saja. tapi kalau ada duit, polisi sangat
bergerak dengan cepat. padahal mereka sudah digaji untuk melindungin dan
melanyani masyarakat.
7.
Sering Gagal Menangani Kasus-Kasu Besar.
Kalau kasus kecil, polisi kita sangat cepat bertindak. dan terakhir
banggalah ia karena telah memecahkan suatu kasus dan menangkap penjahatnya.
tapi kalau kasus - kasus besar, polisi selalu lambat dan terkadang tidak mampu
memecahkan kasus tersebut. kebanyakan yang kita dengar, polisi selalu menangkap
pion saja, sedangkan rajanya sangat jarang sekali berhasil tertangkap.
8.
Polisi Buat Aturan, Polisi Juga Yang
Melanggar.
Salah satu peraturan yang dibuat adalah, memakai helm, kaca spion dua, dan
lain sebagainya. tapi peraturan itu hanya untuk masyarakat sipil. kalau buat
polisi berlaku juga, tapi hanya 50:50 saja.
9.
Polisi Selalu Menindas Masyarakat Sipil.
Dilihat di lapangan, polisi hanya berani nya sama masyarakat sipil, polisi
selalu menyulitkan masyarakat sipil ketika masyarakat tersebut bersalah. sangat
banyak fakta dilapangan ketika seorang polisi menindas masyarakat dengan cara
yang halus dan terkadang anarkis.
10.
Polisi Selalu Ujung-ujungnya DUIT.
Kalau yang satu ini janga ditanya lagi. semua orang memang butuh duit. tapi
lihat tempat, waktu dan kondisinya juga. kalau polisi jeleknya di mata
masyarakat karena tidak mengenal waktu, tempat dan kondisi, yang peting harus
ada duit dan duit. buat sim pakek duit. buat surat ini itu di kantor polisi
pakek duit. melaporkan kasus, pakek duit. mau lepas dari tilang polisi, pakek
duit. kalau mau pacaran ama polisi harus punya duit juga pacarnya kali ia.
Harusnya
Polisi Mangayomi, Melindungi dan Melayani masyarakat, bukan Memoroti, Menyusahi,
dan Menyakiti masyarakat. Polisi itu harus ramah tamah terhadap masyarakat,
baik masyarakat itu masih muda, anak-anak, remaja, orang miskin, orang kaya,
pejabat, masyarakat biasa maupun orang tua.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar