Mungkin heran membaca judul postingan diatas, namun ketika kita berkunjung ke negara kita, Singapura, akan merasakan dan mengerti maksud judul postingan saya diatas.
Salah satu
perbedaan antara negara kita dengan Singapura adalah bahwa di Singapura ada
teknologi yang memaksa, sehingga masyarakatnya mau tidak mau mentaati peraturan
yang sudah dibuat pemerintahnya. mau bukti?
Bukti nyata, kita
sering memberi contoh yang paling dekat tentang keteraturan sistem itu adalah
di Singapura, terutama Manajemen Lalu Lintasnya. Banyak orang bilang,
"orang Singapura itu disiplin". Apa iya ? ternyata tidak. Coba kita
uji, bagaimana kalau orang Singapura yang disiplin itu berlalu lintas di
Indonesia? Lalu, bagaimana sebaliknya kalau orang Indonesia berlalu lintas di
Singapura? Orang Singapura jadi "rusak" dan orang Indonesia jadi "bener".
Ini fakta. Jadi masalahnya apa? Masalahnya di Singapura ada "sistem
teknologi pemaksa" sedangkan di Indonesia tidak ada. Teknologi akan
berfungsi memaksa jalannya sistem karena teknologi tidak memiliki perasaan.
Orang-orang yang tidak komit dan tidak konsisten sekalipun akan dipaksa oleh
teknologi.
Contoh:
Untuk untuk mencegah agar jalan tidak macet oleh para penyeberang sembarangan,
kita bangun jembatan penyeberangan. Untuk menggiring orang agar
menyeberang pada jembatan penyeberangan itu, kita dapat kembalikan pada
kesadaran individu yang dicoba dibentuk dengan edukasi. Namun realita
menunjukkan, kesadaran ini hanya akan muncul pada sedikit orang. Sebagian
orang malas untuk naik turun jembatan penyeberangan. Lalu ada pengaruh
kultur. Kalau orang kita ada di Luar Negeri yang kultur kepatuhan lalu
lintasnya tinggi, mereka juga malu untuk menyeberang jalan bukan di
tempatnya. Sebaliknya, orang asing dari negara maju jika datang ke negeri
kita, juga lalu tidak malu ikutan melanggar, karena kultur kepatuhan kita
rendah. Untuk itu diperlukan pemaksaan oleh sistem. Pada situasi
tertentu, sistem ini cukup berupa aturan. Misalnya, mereka yang
menyeberang tidak di jembatan akan didenda Rp. 1 juta. Namun efektifkah
aturan ini? Yang akan terjadi, kalau ada petugas yang menangkap basah
pelanggar, lebih cenderung akan ada cincai. Lebih ringan membayar
Rp. 50.000 saja ke petugas, tanpa kwitansi, dan uang masuk kocek pribadi
petugas, yang gajinya toh juga kecil. Pemaksaan ini lebih efektif dengan
memasang pagar tinggi di tepi atau median jalan, sehingga orang mau tak mau
harus lewat jembatan. Pagar tinggi inilah teknologi pemaksa perilaku.
Bisakah
diterapkan di Indonesia? bisakah diterapkan dalam organisasi Polri? Jawabannya
adalah bisa...!!! Teknologi seperti apa yang dapat memaksa? Jawabannya adalah
Sistem Informasi Manajemen Polri terpadu.
Bagaimana dengan Polri ? Sehebat apapun Pimpinan dan anggota dengan segala motivasi dan kepentingannya, Mungkinkah organisasi Polri dengan lk 400.000 anggota, rentang kendali yang panjang; tersebar di seluruh wilayah dengan berbagai kondisi; penugasan dengan varian dan differensiasi fungsi, program, kegiatan, beban serta resiko yang begitu kompleks dapat dikelola secara manual ? Jawabnya "tidak mungkin".
Tinggal
tergantung kemauan dari pimpinan Polri untuk membuat keputusan tersebut...
semoga...!!!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar